Seorang Kakak Lelaki

Kamu tahu bagaimana menjadi anak lelaki selepas ibunya melahirkan putri sepertimu? Tangis kecilmu layaknya penyampai amanah Tuhan bahwa aku saat itu juga menjadi seorang bapak kedua untukmu. Bahkan bagi seorang yang masih belasan tahun, atau seorang yang masih dua tahun sepertiku dulu, sama sekali kebeliaan tak bisa menjadi alibi keberatanku pada amanah Tuhan itu. Selamat datang tuan putri, terima kasih atas kehadiranmu yang menyemaikan senyum bapak dan ibu. Kamu yang masih begitu mungil sangat manis dan lucu saat itu. 

Dulu aku belum paham bagaimana menjadi seorang kakak lelaki. Ibu akan marah jika aku mengajakmu hujan-hujanan berperahu jerami di sungai. Lelaki kecil sepertiku dulu hanya tahu bahwa ketika kamu terlihat begitu bahagia melakukannya maka aku akan mewujudkannya. Ternyata tidak mudah menjadi seorang kakak lelaki untuk adik perempuannya. Kata ibu, aku harus bijaksana, harus kuat, dan harus bisa melindungimu. 

Maka aku yang bertanggung jawab atas pelajaran- pelajaran yang kamu tidak paham di sekolah, mengajari tugas membuat kerajinan, membuatkan mainan, menjawab penasaran-penasaranmu tentang banyak hal di dunia. Barangkali begitulah cara Tuhan mengajariku bahwa aku harus menjadi orang yang tanggap dan serba bisa. 

Maka aku harus memastikan alasan kamu menangis di sekolah, menemui kakak kelas yang menakalimu. Aku harus memberikan pertolongan pertama saat kamu jatuh dari belajar sepeda, bermain egrang, atau sekadar tersandung ketika berlari. Barangkali begitulah cara Tuhan mengajariku bahwa aku harus menjadi orang yang peka dengan luka orang lain, bagaimana merawat luka, dan bagaimana menjadi seorang yang tak melukai orang lain. 

Maka sejak aku menjadi kakak lelaki untuk seorang adik perempuan, aku berjanji pada diriku sendiri. Bahwa aku sebisa mungkin tak akan melukai apalagi mempermainkan seorang perempuan. Aku tak ingin merepotkan kakak lelaki lain yang juga sedang melindungi adik perempuannya.

Kelak

"Kak, sudah menemukan?" Tanya seorang adik perempuan.
"Menemukan?" Kakak lelaki balik bertanya.
 Adik perempuan hanya tersenyum.
Kakak lelaki mulai mengerti arah pertanyaan adiknya.

 "Kak, kakak akan memilih yang mana? Aku yang lebih dulu ditemukan atau kakak yang lebih dulu menemukan?" Adik perempuan bertanya lagi.
 "Menurutmu mana yang akan lebih sulit, meninggalkan atau ditinggalkan?" "Sama-sama tidak mudah." Jawab adik perempuan.
"Tak usah risau, tak perlu khawatir kamu ditinggalkan ketika aku telah menemukan nanti, justeru aku membawakan teman perempuan untukmu juga." Jawab kakak lelaki.
Adik perempuan hanya terdiam.
"Atau sudah ada seorang yang menemukanmu? Aku akan dengan senang hati menyambutnya. Aku akan sangat lega ada seorang yang akan menjagamu. Dia haruslah lelaki yang mampu menuntunmu dalam kebaikan, membuatmu ikhlas menjadikannya sebagai muara ketaatan, menerima kamu sebagai dirimu sendiri, dan tentu saja seorang yang cukup 'sabar dan peka' membersamai perempuan sepertimu." Jawab kakak lelaki sambil tersenyum menyindir.
Adik perempuan hanya tersenyum getir.
Kakak lelaki kembali tidak mengerti arah pertanyaan adiknya.

Merapikan


Pernahkah sesekali membunuh segala kebosanan dengan memutuskan membaca ulang isi ponsel? Merapikan pesan-pesan yang masuk. Lantas menemukan sederet pesan singkat yang tak sempat kita balas. Entah dengan sederet alibi yang kita buat. Terlalu sibuk, riweh, limit pulsa, sedang susah jaringan, tak penting, atau sekadar menyengaja tak membalas. Tapi di lain waktu kita tersadar begitu banyak yang telah kita abaikan. Kita seringkali lupa betapa menyebalkannya ketika kita mengirim pesan tanpa ada balasan dari yang kita tuju bukan? Ternyata kadang kita juga lebih menyebalkan dari itu. 

Kita barangkali pernah jenuh di sela rutinitas. Semakin jenuh melihat berkas-berkas berantakan memenuhi memori gadget kita. Pernahkah sesekali memutuskan memberi jeda atas sederet deadline? Menata ulang folder-folder yang bertebaran. Menemukan folder album sederet gambar yang pernah kita abadikan. Membuka gambar-gambar usang tak ubahnya menaiki gerbong kereta waktu yang mengantarkan kita menuju ingatan yang tertidur pulas di amygdala otak kita. Tentang cinta, benci, bahagia, sedih, takut, khawatir, marah, kecewa, dan segala ingatan-ingatan emosional yang telah kita domisilikan di sana. Lantas tersenyum menyadari keluguan di masa lalu, menggenapi rindu lewat gambar sahabat, keluarga, atau siapapun yang mungkin lama tak kita jumpa, mereka ulang hal-hal yang pernah kita lakukan, momen-momen yang pernah kita lalui, tempat-tempat yang pernah kita jelajahi, atau sekadar merenungi betapa hal-hal di sekeliling kita terus berubah begitu cepat layaknya roda kereta yang cekatan menggesek relnya. 

Bagi sebagian kita, terkadang merapikan itu merepotkan. Banyak hal terserak tanpa kita sadar, merapikan tak lain menginsyafi, menggugah keinsyafan. Banyak hal terlalui tanpa kita sadar, merapikan tak lain mengenangi, menguak kenangan.

Selamat merapikan, apapun.

Mereka yang Dihadirkan

Adalah mereka, orang-orang yang tetap saja tertawa atas segala candaan kita yang kadang sama sekali tak lucu, tetap memasang telinga atas keluh-keluh sepele kita yang terus mengalir menggerutu. Mereka mungkin lebih butuh didengarkan tapi tetap saja belajar tuk jadi pendengar yang baik. 

Adalah mereka, orang-orang yang tak pernah kehabisan persediaan kesabarannya, menerima dengan lapang segala tabiat dan laku-laku menyebalkan yang kita punya. Mereka mungkin tak memiliki dada yang cukup lapang tapi selalu mencoba bertahan tuk jadi seorang penyabar. 

Adalah mereka, orang-orang yang lebih memilih mengirimkan kado-kado pahit bernama nasihat dibanding sepaket pujian berbungkus kepura-puraan. Mereka bukan berlagak paham segala, melainkan mencoba peduli bahwa sebungkus manis justru mungkin akan melubangi sedangkan sebutir pahit akan mengobati. 

Adalah mereka, orang-orang yang berpura biasa-biasa saja menanggapi segala tingkah aneh kita, padahal peduli, lantas diam-diam mengetuk-ngetuk kegelisahan yang kita coba tutupi rapat-rapat. Mereka mungkin bukan orang yang peka, tapi tak menyerah belajar memahami. 

Adalah mereka, orang-orang yang terkadang berpura tidak khawatir, mencandai seraya menyikut bahu, hanya untuk meredamkan segala kecemasan yang kita punya, lalu berdecak “Hei, semua akan baik-baik saja!” Mereka mungkin bahkan sedang butuh disemangati tapi selalu berlagak menyemangati. 

Adalah mereka, orang-orang yang barangkali tanpa kita duga menjadi sebab kemudahan-kemudahan serta keberhasilan-keberhasilan dalam hidup kita lewat doa-doa yang mereka panjatkan diam-diam. Mereka bukannya miskin keinginan, melainkan menjadikan kebaikan kita sebagai bagian dari betapa kaya pengharapan yang mereka miliki. 

Mereka bukanlah fans, psikolog, konsultan, dai, detektif, supporter, apalagi malaikat. Mereka barangkali bukan orang-orang yang sengaja kita pilih, ataupun juga sebaliknya bukan kita yang menyengaja untuk mereka pilih. Melainkan merekalah orang-orang yang entah bagaimana ‘disengajakan’ hadir di sekeliling kita bahkan mungkin tanpa kita minta. 

Mereka, entah siapapun di setiap fase hidup kita, orang tua, saudara, sahabat, teman seperjuangan, atau bahkan mungkin teman hidup kita. Pada akhirnya lewat merekalah kita diajarkan bahwa Allah mencipta lalu mempertemukan tak pernah tanpa alasan. Agar kita senantiasa merayakan kesyukuran sebanyak-banyaknya, barangkali salah satunya.

Tertangkap Basah


Tak perlulah kita merengek layaknya seorang yang putus harapan atas sesuatu yang bahkan belum kita kejar layaknya seorang yang telah mati-matian memperjuangkan. Kita hanya perlu melakukannya lebih.

Kita barangkali pernah terlampau bersenang-senang, melupakan segala kepayahan yang seharusnya kita perjuangkan. Kita barangkali pernah tertawa terbahak, tanpa menjadi peka di tanah yang kita  pijak. Kita barangkali pernah merasa tahu segala, padahal tak banyak yang kita punya dibalik tempurung kepala. Kita barangkali pernah membiarkan diri, terus tenggelam dalam kesalahan yang sejatinya kita sadari. 

Atas segala bentuk kelalaian, ketidakpekaan, kepongahan, dan kealpaan, terkadang layaknya kita terlanjur tenggelam, suka atau tidak suka, harus rela untuk menjadi basah bukan? Karena bagaimanapun sejatinya basah adalah konklusi yang telah disepakati atas premis-premis ketenggelaman dalam hidup. Maka saat kita harus tertangkap basah, bukankah lebih indah menyengaja diri dibanding didapati tanpa kita duga dan kehendaki? Sama-sama basah, tapi setidaknya dengan menyengaja kita masih punya jeda untuk memupuk kelapangan hati. Sewaktu-waktu kita memang butuh tertangkap basah. Membiarkan rasa malu menjadi memori yang akan kita kenang di masa depan. Membiarkan rasa sesal kita kunyah untuk menemani perjalanan berikutnya. 

Barangkali seperti itulah Tuhan menciptakan sepasang makhluk bernama masa lalu dan masa depan. Agar mereka, sadar atau tidak sadar, sewaktu-waktu akan saling mengingat. Seperti sekeranjang pertanyaan yang kadang tak selalu dijual dengan bonus sepaket jawabannya sekaligus. Karena ada kalanya sebuah jawaban barangkali tiba-tiba justru hadir di hadapan kita di masa depan, saat kita bahkan telah lupa apa yang pernah kita pertanyakan di masa lalu. 

Hidup ini tentu saja sudah ada takarannya masing-masing. Tidak lebih tidak kurang. Pun tiada bejana yang akan tertukar isinya. Tinggi rendah, banyak sedikit, cepat lambat, baik buruk, bukankah tugas kita berupaya meraih sebaik-baik takaran yang sudah disiapkan? Agar tiada mubazir atas takaran yang sudah dijatahkan tapi dengan ceroboh kita abaikan. Juga tak lupa bercukup-cukup membentengi diri dari keserakahan, agar tiada takaran yang sejatinya tak muat tapi dengan tamak terus kita paksa mengisi bejana yang kita punya. Lalu pada akhirnya kering ataupun tumpah yang didapat hanya menyisakan lelah. 

Atas tulisan yang salah kita eja. Atas langkah yang salah kita tapak. Maafkanlah, tapi jangan beri pemakluman. Maka memaafkan adalah menjadi sadar atas segala arus yang terlanjur keliru kita selami. Sedangkan pemakluman hanya akan menjadikan kita merasa nyaman dan terbiasa tanpa sadar bahwa diri telah basah. Bukankah tenggelam sejatinya bahkan telah mengajari kita betapa sesaknya berlatih menahan nafas pada detik-detik permulaannya?


Semarang, 13 Maret 2016

Bayang

Perlawanan yang paling sulit adalah melawan diri sendiri
Tidak bisakah seperti hujan?
Jatuh tinggal jatuh
Basah tinggal basah

Seperti terlalu rumit untuk mengukur bayangmu sendiri
Panjang pendek selalu tak pasti
Kau membungkuk, dia turut
Kau berdiri, dia tak bisa kau terka

bayang
selalu mengikuti kemanapun kamu coba lari

Semarang, 4 Maret 2016

Hujan dan Keterjebakan


[]... Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).[1]

Hujan, barangkali hidung mampu mencium aroma petrichor menghambur bersama debu yang membasah pada jatuh pertamanya. Salju, barangkali kulit mampu menafsirkannya dengan kata dingin lalu menyalurkan dalam gigilnya. Angin, barangkali telinga bisa saja termanjakan dengan alunan ketenangan lewat sepoi yang menggesekkan dedaunan atau justru terusik dengan gemuruhnya. Awan, barangkali dua bola mata tak sengaja menangkap arak-arakan putih yang menggantung itu lalu membiarkan benak menebak-nebak sketsa yang dibentuknya. Dalam banyak hal, kita barangkali terlalu sering hanya mengandalkan pancaindera menjadi jaring penangkapnya. Lalu berlalu begitu saja. 

Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu merenungi tiap detil kecil di dunia yang kita pijak barang sebentar ini? Hujan misalnya. Di tiap-tiap rintik yang turun, sebagian manusia sibuk mengutuki, sebagian lagi tak peduli, namun ada pula sebagian yang khusyuk menginsyafi. Entah bagaimana hujan seringkali dijadikan tersangka atas keterjebakan-keterjebakan manusia. Mulai dari terjebak pulang pergi kerja atau sekolah, terjebak di rumah, terjebak di emperan toko, terjebak kehabisan pakaian yang tak kunjung kering, terjebak dalam hangat selimut, terjebak dalam khayalan bak kejatuhan dongeng-dongeng dari langit,  hingga terjebak dihujani kenangan masa lalu. Terjebak, terlebih tak bisa beranjak kata mereka. 
Mari berhenti dari keterjebakan-keterjebakan yang terlalu biasa. Padahal tiap satu rintik yang turun dibersamai satu makhluk. Maka dijadikan tetumbuhan di sekeliling jatuhnya menjadi hidup. Lalu tiap sehelai daun yang tumbuh darinya bahkan dibersamai lagi tujuh makhluk. Adalah makhluk yang tercipta dari cahaya yang selalu setia pada titah Tuhannya. Malaikat namanya. Tuhan menjatuhkan tiap rintik lengkap bersama keberkahan yang turut serta. Pernahkah kita mampu menghitung seberapa banyak rintik air yang jatuh? Sebanyak itu pula Tuhan memberi kartu emas atas doa-doa yang kita pinta. Maka ketika pun kita harus terjebak ketika hujan turun, tidak ada yang lebih indah daripada terjebak di dalam doa-doa. Sebasah-basahnya. Sebanyak-banyaknya. Seraya terus mengingat dan memuji-Nya. Lalu diam-diam Tuhan akan memilihkan yang terbaik dari sederet yang kita pinta untuk tersemogakan. Allahumma shayyiban nafi’an...[2]



[1] Al-An’am (6): 59 
[2] Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat. HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523.