24 Desember

Bahkan akupun tak bisa memutar memoriku dengan jelas, kapan itu hari saat aku pertama kali bisa melihat dunia, pertama kali menangis, pertama kali melihat senyum tawa, aku lupa saat aku masih seperti makhluk asing yang tak tau apa-apa tak bisa apa-apa...aku tak bisa mengingatnya. Hanya ingat tanggal itulah yang tertera di akte, KK, dan KTP-ku. Hanya ingat di tanggal itulah dulu ibuku pernah membuatkan nasi kuning, kakaku pernah membuatkan puding, adikku pernah memberi sepotong roti kecil dengan lilin putih (yang menurutku terlalu besar :D ) di atas piring kecil, yang dia bilang itu kue ulang tahun spesial :D. Di tanggal itu pula, dulu teman-teman SDku melempariku dengan plastik-plastik berisi air kental barcampur daun kembang sepatu lalu menaburiku dengan tepung, atau saat kami membakar ikan bersama, dan saat-saat lain di tanggal yang sama, yang mereka semua bilang hari itulah “hari spesialku”, 24 Desember.

Aku sepakat, bahwa ini “hari spesialku”. Tapi tepatnya bukan karena semua itu, melainkan karena tanggal dan semua ucapan, doa, pemberian, atau apapun itu, lebih dari sekadar momen, lebih, bahwa tanggal itu telah mengingatkanku bahwa aku ada, atau bisa dibilang masih ada. Aku masih berpijak di bumi yang sama dan bernaung di langit yang sama. Meski tak ayal tiap tahun harus kulewati tanggal itu di tempat yang berbeda, suhu yang berbeda, serta angin yang berbeda  pula, karena ruang dan waktu ternyata tak selalu berjodoh (aishhh :D).

Dan satu lagi daun umurku di sana telah gugur. Entah berapa yang tersisa, masih rimbunkah? Atau sudah seperti pohon jati yang meranggas di musim kemarau? tidak ada satupun makhluk yang tau. Semoga aku selalu ingat itu.

Teruntuk yang kemarin telah memberi ucapan, lewat peluk, lisan, sms ataupun fb, entah yang pertama :) hingga yang terakhir :) ...
Dan yang telah mengirimkan kado-kado “misterius” :p...
Atau yang telah menyiratkan lewat status ataupun note fbnya....
Juga yang telah menyampaikan doanya, mengharap segala kebaikan, perbaikan...
Serta yang telah menyelipkan namaku dalam iringan doa, mungkin tanpa aku harus tau...
Ataupun yang telah menghadirkan bayang wajahku dalam lantunan rabithahnya...
dan bahkan yang tiada henti, tiada lelah meminta pada Rabbnya untuk kebaikan dan kebahagiaan atas diriku, sejak pertama kali aku lahir ke dunia...
tak lupa mereka yang tak perlu mengucap ataupun memberi, tapi telah mewarnai daun umurku,menjadikannya segar sejuk....

...syukron jazakumullah...terima kasih ...thanks...matur nuwun... :)

cc:  *cukup kusebut nama kalian dalam hati, dan biarlah malaikat yang menyebut nama kalian dengan lantang di hadapan Rabbnya, bahwa kebaikan-kebaikan yang kalian panjatkan itu adalah hak atas kalian pula yang telah berdoa untuk saudaranya.

Semarang, 24 Desember 2013

Belajarlah dari Dandelion

Tak perlu kau pedulikan sekalipun mawar yang terus dipuji dengan indah kelopaknya. Tak perlu pula kau iri sekalipun melati yang terus disanjung dengan semerbak harum aromanya. Dan tak perlu pula kau meratapi diri sekalipun anggrek yang terus diagungkan dengan pesona warnanya. Tak perlu....
Lihatlah dandelion itu. Tak semua orang tau dan memang tak perlu tau. Tapi cukup ia tau bahwa tanpa kelopak yang indah, semerbak harum, ataupun pesona warna, ia tetap ada untuk memberi makna kehidupan. Belajarlah bagaimana ia tetap tumbuh. Belajarlah lebih dari melihat apa yang ia tak punya itu. Dalam kesederhanaannya itu kau akan belajar tentang makna keikhlasan dan ketegaran.

Cukup lihat biji-biji kapas putih halus yang mengerumuni ujung tangkainya. Hinggap tenang sesekali menari pelan tertiup angin yang lirih. Namun kemudian iapun rela ketika harus terlepas dari induk tangkai dan gerombolan sesama biji kapas lain ketika ia sudah mulai matang dan angin mulai meriuh. Meski tanpa ia tau kemana riuh angin akan membawanya. Mungkin saja kemudian ia jatuh di padang rumput hijau atau di tepian jalan dengan masih bersama biji kapas yang lain. Tapi bagaimana jika angin membawanya ke lahan gersang, atau bahkan ke ujung jurang, bahkan ketika harus menerima jika jatuh terpisah dari sesamanya, bagaimana?? Sendiri, menanti tetes air untuk membangunkan tunas tubuhnya.

Lalu kenapa ia ikhlas? Kenapa ia tetap tegar? Karena ia tau, jika ia menyerah maka ia tak lain sebutir biji kapas tak berguna, yang terbawa angin lalu tergeletak begitu saja. Atau bahkan jika ia hanya ingin tetap bertengger manis di tangkai induknya, merasa nyaman, tak ingin lepas dari gerombolan biji kapas seinduk yang lain itu. Tapi ada masanya ia harus menjadi matang dan bukankah angin tak selamanya bertiup damai? Itulah kenapa ia harus ikhlas dan tegar terlepas meski dalam keterpaksaan. Di balik semua itu, ia membawa sebuah titah tuhan yang sangat bermakna. Bahwa meski dimanapun nantinya riuh angin akan membawanya, sekali lagi bahkan keitka harus jatuh di lahan gersang ataupun ujung jurang, ia harus tetap berjuang menumbuhkan tunas tubuhnya. Kemudian terus tumbuh dan tumbuh hingga manjadi setangkai dandelion baru yang di ujung tangkainya bertengger puluhan bahkan mungkin ratusan biji kapas putih baru pula.

Belajarlah dari dandelion itu. Tak perlu jadi mawar, melati, ataupun anggrek yang dihujani pujian dan sanjungan. Cukup jadilah dandelion yang mencintai titah Rabbnya. Ikhlas dan tegar kemanapun Allah menghendaki angin membawanya... Karena keikhlasan dan ketegaran sebutir biji kapas dandelion bisa menumbuhkan setangkai dandelion baru dengan puluhan bahkan mungkin ratusan biji kapas putih baru. Dan begitu seterusnya biji-biji kapas putih baru itu kelak menumbuhkan dandelion-dandelion yang lain.

Jalan dakwah memang bukan jalan biasa. Bukan jalan yang kita telusuri karena berada di tempat (red: amanah) yang nyaman, saudara yang menyenangkan, ataupun kondisi yang damai. Jika alasan dakwah hanya sekedar itu semua maka yang ada kau akan loyo jika diberi tempat (red: amanah) di luar zona nyamanmu. Kau akan patah semangat jika saudaramu tak menyenangkan, tak sesuai harapanmu. Atau mungkin kau akan kecewa jika kondisi dakwah bergemuruh tak mau damai. Kau hanya butuh “cinta” dimana Dia sebagai landasannya. 
"Bukan karena jalan ini menyenangkan maka kau jadi cinta, tapi karena kau cinta jalan ini maka ia jadi menyenangkan."


Semarang, 7 November 2013

Yang Dilimpahi Wewenang, Tapi Tak Mampu

Ternyata sudah hampir dua minggu saya tak mempublish satu postinganpun, sejak postingan terakhir tertanggal 7 November 2013 tentang “Belajarlah dari Dandelion”.  Ah, bisa dibilang cukup lama, atau bahkan saya harus mengakui saya ‘gagal istiqomah’ (red: istiqomah menulis). Kenapa? Tak benar-benar tahu alasannya. Yang jelas, sebenarnya banyak momen bermakna selama dua minggu ini, banyak. Tapi kemudian jemari terlalu malas menyalurkan semua yang sudah terbendung di otak ini.

Postingan kali ini mungkin bisa dibilang berbeda dari postingan-postingan yang sebelumnya. Karena saya tidak akan banyak bermain bahasa-bahasa yang puitis. Sekadar ingin berbagi alasan. Ah tidak tidak, sejujurnya saya bukan tipe orang yang suka mencari alasan sama halnya saya tidak suka menuntut alasan pada orang lain. Tapi orang bilang setidaknya alasan itu bisa sedikit meringankan rasa sesak, kesal atau bahkan amarah orang lain. Katanya sih...dengan alasan pula bisa meminimalisir adanya suudzon. Dan bukankah suudzon tanpa fakta dan bukti yang jelas itu makruh hukumnya?

Kembali ke topik awal. Kenapa ‘gagal istiqomah’? Jemari saya malas? Alasan yang tidak syar’i sekali bukan? Ada yang aneh. Sedari kemarin saya terus berfikir, salah satu nasihat Imam Syafi’i bahwa sesuatu yang paling tajam adalah lidah. Setiap apa yang keluar dari lisan kita seperti pisau bermata dua. Jika kita bijak maka akan membawa manfaat dan kebahagiaan orang lain. Tapi jika kita ceroboh maka justru ia akan membawa mudhorot dan luka pada orang lain. Lalu apa hubungannya?

Konteks lidah ini tentu saja berlaku di dunia nyata, sedangkan di dunia maya? Misalnya sosial media (facebook, twitter, whatsapp, dsb), web, blog, dan lain-lain. Bukankah status, note, tweet, postingan, dan sejenisnya itu sama halnya apa yang keluar dari lisan kita secara tidak langsung? Bukan begitu? Atau di sini ada semacam ‘pelimpahan wewenang’ dari lidah kepada jemari kita untuk menyampaikan apa yang di otak kita. Maka jemari itu bisa jadi pisau bermata dua juga bukan? Bahkan lebih dari bermata dua. Jika yang berasal dari lidah kita hanya sekadar sekali terucap, ya sudah akan berlalu tanpa bukti tertinggal kecuali yang benar-benar menancap di hati. Tapi bisa dibayangkan, lewat jemari kita, sekali kita mengetik lalu kita post/publish, komen-komenan, dan lain sebagainya. Sekali isinya membuat iri, kesal, cemburu, atau mungkin melukai perasaan seseorang, maka selama belum kita hapus maka akan menimbulkan ‘luka berkesinambungan’ ketika pembaca yang bersangkutan kembali membuka lagi, membaca lagi, dan akhirnya semakin meresapi lagi. Pertanyaannya adalah apakah jika demikian maka dosa kita akan berlipat atau berkesinambungan pula? Wallahu a’lam.

Maka semakin meluap-luap di otak ini, rasanya jemari ini semakin kaku. Terfikir sekali menggores luka apakah dengan kata maaf sekali saja mampu menebusnya. Sepertinya tak cukup. Saya tahu tak cukup, saya tahu. Tak mau juga saya mempublish kemudian menghapusnya lagi, terlalu plin-plan dan pengecut. Banyak yang ingin saya tuangkan, tentang ini itu, tapi sekali lagi jemari ini enggan menjalankan wewenang yang dilimpahkan lidah padanya. Dan saya teringat satu hal, bahwa ketika lidahpun bisa melimpahkan wewenangnya pada jemari tanga, ternyata ada organ penting lain yang berperan dalam hal ini, bahkan sangat sangat penting, ialah hati.


Semarang, 19 November 2013

Ketika Husnuzon Menjadi Tantangan Tertinggi

Diam memang lebih mudah dilakukan daripada membuat alasan, tetapi setidaknya alasan itu mampu meredam munculnya sebuah suudzon yang mengatasnamakan kepekaan. Karena menjadi peka memanglah tak mudah, ketika seseorang dituntut harus mampu mendengarkan panggilan yang sebegitu lirihnya, serta harus melihat tanda yang sebegitu kecilnya. Karena sesulit apapun itu, tetap saja memekakan diri adalah hak saudaraku yang harus kupenuhi. Namun aku tak yakin sudah bisa memenuhi hak itu. Bahkan mungkin tulisanku inipun termasuk salah satu tanda ketidakpekaanku.

Masih teringat jelas di benakku, awal skenario Allah mempertemukan kita. Lebih dari lima tahun yang lalu. Dari segi tempat memang tak ada yang terlalu istimewa di sana, ya dua bangku kayu yang beriringan di sebuah ruang kelas, tapi bukankah keistimewaan itu relatif? Bagiku tetap, di situlah kisah kita yang istimewa dimulai. Terlalu absurd untuk diuraikan, entah kenapa kemudian kita menjadi salah satu yang teristiqomah di sana, istiqomah tuk tetap beriringan hingga episode putih abu-abu kita berakhir.

Selanjutnya kitapun asyik larut mengikuti alur skenario-Nya. Berawal dari duduk beriringan, lalu berjalan beriringan, hingga berlaripun beriringan, saling memacu dan terpacu. Waktu yang telah berlalu itu tak bisa dibilang sebentar bagiku. Terlalu banyak momen ukhuwah kita yang bahkan mungkin akupun tak mampu menulis semua kisah itu di sini. Bahagia, kecewa, marah, luka, sedih, haru, seperti crayon yang mewarnai kertas kisah kita. Dan di antara sekian banyak  warna itu ada warna favorit kita, namanya warna bahagia. Tapi tak bukankah kita tak bisa melukis pelangi hanya dengan satu warna? Maka biarlah warna-warna itu bak penyusun indah pelangi kisah kita.

Bolehlah aku mengurai sepotong episode kita yang tak terlupa. Episode tentang keharuan. Saat itu, kita terhanyut dalam peluk haru, kita menangis tersedu-sedu. Saat itu, aku mengira kita akan melewati batas ruang, jarak dan waktu itu. Saat itu, ku kira ku akan benar-benar melangkah jauh ke negeri seberang. Mungkin kita saat itu terlalu pengecut, takut pada ruang, takut pada jarak, takut pada waktu, takut jika mereka bermain-main di antara kita, mengusik kisah kita dan menjadikan kisah kita hanya tertinggal sebagai bagian memori masa lalu. Tetapi Allah punya rencana lain, bukan seperti itu skenario yang ditulis-Nya. Allah masih menuliskan kita kembali berjuang bersama. Memijak di tanah yang sama dan beratapkan langit yang sama.

Namun aku, kamu, dulu, sekarang, tak ku pungkiri beberapa hal memang berubah. Ketika kini terkadang langkah kaki kita berbeda frekuensi, terkadang kita lupa tuk saling memacu karena tujuan dan cita kita yang memang terus memacu kita untuk berlari lebih dan lebih cepat untuk mencapainya. Bukan menyalahkan tujuan dan cita itu, bukan. Kita sama-sama tau mana tujuan dan cita yang mulia, yang bermuara pada ridho-Nya, dan mana yang sekadar ambisi dunia dan angan-angan yang fana. Aku yakin kita tau. Hanya saja  terkadang mungkin kita saling terlupa, terlebih diriku sendiri. Terkadang mungkin saja terlalu asyik melangkah hingga lupa tujuan dan cita itu, mungkin pula terlena ambisi palsu dan angan-angan fana itu., bahkan hingga tak menyadari keangkuhan diri. Hingga akhirnya lupa pada irama langkah di antara kita yang mulai gontai. Entah itu langkahku atau mungkin langkahmu.

Sungguh, ketika diberi 2 pilihan apakah aku akan “mendorongmu” atau “menarikmu” saat adakalanya langkah kakimu terhenti. Aku tidak ingin memilih keduanya. Aku hanya ingin tetap menggandeng tanganmu dari samping lalu kita melangkah lagi bersama. Begitupun aku, jika langkahku yang tiba-tiba terhenti, lantas aku di beri pilihan itu. Akupun tak ingin kau “mendorongku”  ataupun “menarikku”. Aku hanya ingin kau dari sampingku, menggandeng tanganku dan kita melangkah lagi bersama.

Tapi bukankah Allahpun menganjurkan kita untuk saling berfastabiqul khairot? Ya, kitapun tak boleh melupakan itu, tak boleh melalaikan langkah kita untuk berlomba menggapai tujuan dan cita mulia itu. Tapi aku berharap kita tetap sama seperti dulu, menyamakan frekuensi, saling memacu lagi tuk melangkah bersama ke arah yang sama. Tetap saling memahami, saling mengerti, saling berbagi, dan saling mengingatkan lagi. Untuk itu, mari kita saling berteriak lebih kencang lagi, saling menepuk bahu lebih keras lagi, dan saling menyadarkan hati. Karena sekali lagi menjadi peka memang tak mudah. berteriaklah lebih kencang, agar tak ada lagi alasan untuk bersuudzon dengan mengatasnamakan sebuah kepekaan.

Ketika husnuzonpun menjadi tantangan tertinggi dalam sebuah ukhuwah. Mungkin karena ruang membuat langkah kita sulit untuk selalu beriringan. Mungkin karena jarak membuat lelah hingga langkah enggan terayun lagi. Atau mungkin karena waktu mencekik masing-masing kita hingga sulit bersua atau sekedar saling sapa. Tapi hanya ingin kau tau, bahwa karena aku menyayangimu karena-Nya, karena itu pula aku ingin hingga kelak kita tetap melukis kisah bersama, di tempat yang tak akan lagi membuat kita khawatir pada ruang, jarak dan waktu. Mari bersama berikhtiar mengistiqomahkan diri di jalan-Nya, melangkah lagi dan jangan berhenti, berbenah diri menuju ke sana, ke tempat yang bernama Firdaus ilahi.
Teruntuk saudariku yang ku cintai karena Allah, ingin tetap dan selalu mendekapmu dalam ukhuwah ini.
Semoga kisah kita tidak hanya menjadi sandiwara satu babak saja. :)


Semarang, 1 November 2013

Bahagia dalam Diam

Kau selalu bilang... “bahagia itu keputusan”
Dan “sedihpun juga keputusan”
Tapi kemudian pernahkah kau merasakan...
Adakalanya kita bingung menentukan keputusan?

Ketika suara nurani terhalang oleh setumpuk rasa
Maya tapi nyata
Hingga hanya bebal, pengap dan sesak yang terasa
Di sini, di dalam relung yang amat jauh
Ia begitu lirih, hingga sulit terdengar telingaku yang dipenuhi bisikan keluh
Ia begitu tak kasat mata, hingga sulit terlihat mataku yang terlalu luluh
Ingin berteriak, tapi tak mampu
Ku terbungkam, terdiam, terasa bisu

Dan ku terus bertanya lagi
Kemana pergimu wahai hati?
Kenapa mengerdil seperti ini?

Lalu teringat lagi, katamu bahagia dan sedih itu keputusan
Ah tapi benarkah ini sebuah keputusan?
Lalau kaupun datang saat aku masih sendu
Beberapa saat aku masih bertahan dengan piluku
Tapi entah orang macam apa engkau itu
Betapa aku tak tau
Kau bagai seorang penyusup ulung
Begitu saja menelusup hati, menyugesti alam fikirku

Dan hari ini
Mataku berkaca, lalu butir bening itu mengumpul di kedua sudutnya
Hingga tumpah tak mampu ku tahan
Aku terisak, tersedu-sedu
Dan air mata ini biarlah jadi bukti
Bukan lagi air mata pilu, bukan pula sendu
Sungguh tangis ini adalah tangis haru
Bahwa aku tersadar,  ternyata aku bahagia
Dan bahagia itu terlalu sempit jika hanya ku maknakan dengan satu definisi
Jika sebuah keputusan itu butuh alasan
Maka kaulah yang mengajarkanku betapa banyak alasan untuk bahagia
Hanya mungkin saja aku terlalu malas memungut alasan-alasan yang tercecer itu

Biarlah dalam diam ini aku mengungkapkannya
Terima kasih...
Sungguh terima kasih...
Tetaplah tepuk bahuku, sadarkan aku
Bahwa jalan ini memang seperti ini
Kita hanya perlu berkomitmen pada perasaan
Karena ia yang akan membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya
Tanpa mengeluh
Dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur
Karena jalan inilah yang akan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki
Tentang mimpi kita meniti tangga menuju Firdaus Ilahi

Semarang, 25 Oktober 2013

Perjalanan Barisan Hebat

kami belum selesai mengurai senja...
saat langit berwarna redup jingga, kami tak boleh lalai dalam damai
juga ketika ia merah menyala, kamipun tak boleh silau
kami hanya perlu faham...
kami hanya perlu mengerti...
bahwa langit terus berubah warna

kini langkah kami berserak, bercecer, di tiap jengkal tanah
dan bila langkah ini adalah bentuk maju
bukankah tak setiap maju berbentuk langkah?
maka maju bukan lagi sekedar langkah
namun jejak di setiap gerak langkah

senja terus berlalu terseret waktu...
ia terhisap malam yang merasa belum pantas bertemu pagi...
padahal...
kami belum pantas menjadi tiang yang cukup kokoh untuk menopang atap cerita
kami belum pantas menjadi teman bicara yang cukup cerdas untuk berbincang

tapi di sini…
dia mengajarkan kami bercerita
tentang taqwa...
tentang militansi...
tentang ukhuwah...
tentang istiqomah...
yang dia bilang akan membawa kami pada Cinta...
maka ketika kami sampai pada puncak Cinta itu
kami ingin kau selalu di hati
dan ketika puncak Cinta itu membawa kami semakin dekat dengan langit
kami ingin terus merajut indah kisah kami, sedekat keluarga…

didedikasikan untuk barisan hebat Eksis Rohis FE Unnes 1434 

Dariku & Mba Fhebry,
yang sedang merayakan bahagia

Semarang, 25 Oktober 2013

Izinkan Jadi Alasan Bahagiamu

Tangan yang biasa yang menggenggam
mata yang terus menatapku
bibir yang selalu tersenyum
kau selalu disini

peluk yang tak ingin lepas
jari yang belai keningku
pundak tempatku bersandar
kau selalu di sini

kini kita harus berpisah
jarak waktu mempermainkan kita
ku disini dan kau disana
tapi ku tak sendiri

suara kau dihati
terbawa di mimpi
walau kau disana
aku tak sendiri

ada kau dihati
ada kau dihati
aku tak sendiri
kau selalu bersama aku



kekuatanmu buatku tangguh
percayamu buatku yakin
kemana pun dimana pun ada kau di hati

(Sherina, Ada)


Sebuah lagu yang entah kenapa akhir-akhir ini jadi most played. Lagu yang menggambarkan kemanjaan. Rasanya sudah lama sekali tak pernah ku elus tangan itu, yang ternyata kini semakin terasa kasar, kaku oleh sekian banyak kerja kerasnya. Rasanya sudah lama sekali tak pernah ku tatap lekat-lekat mata indah itu, yang kini semakin terlihat ciut oleh keriput di sudut-sudutnya. Rasanya sudah lama sekali tak pernah dengan sepenuh-penuh kesungguhanku mendengarkan lisan yang kerap bahkan selalu menghadirkan canda dari bibir itu, yang selalu merekahkan senyum dan menularkannya ke bibirku.

Akhir-akhir ini, entah tiba-tiba rasanya aku rindu sekali dengan semua itu. Ketika ku dengar dari ujung telepon, berkata dengan nada lembut, “Nak, pohon mangga di depan rumah sudah mulai berbuah lho...”. Sekilas nampak seperti perkataan biasa, perbincangan biasa. Ya, memang, mungkin begitu biasa. Tapi rasanya seketika dada ini sesak. Tersirat di fikiranku, bukankah ucapan itu tak lain sebuah alibi kerinduanmu? Ku tau, dan ku yakin kaupun tau, mudah saja bagiku jika sekedar ingin buah mangga, di sinipun banyak pohon mangga, di toko buahpun banyak menjajakannya. Tapi, di sana benar-benar tersirat guratan rindumu dan aku mampu menangkap rona itu. Aku tau kau hanya tak tega ketika memintaku pulang di sela aktivitasku di sini. Menikmati rindu dalam tumpukan sejuta lebih tanda tanya adalah pemandangan indah tapi tak kasat mata. Dan begitupun aku, kerap kali menyiratkan alibi-alibi klasik tuk menutupi rindu-rindu yang ku biarkan terbenam. “Di rumah musim apa? Ada kabar apa? Bla bla bla” Ah kadang akupun terlalu angkuh untuk sekedar mengungkapkan rasa itu.

Dan ketika akhirnya ku putuskan untuk datang menemuimu, di tengah amanah dan tanggung jawabku di sini. Setelah melewati perhelatan batinku sendiri, biar sejenak kusempatkan menengokmu, bukan ingin melalaikan amanah dan tanggung jawabku, bukan itu. Tapi karena ku sadar engkaupun salah satu amanah bagiku. 

Sungguh tak ingin ku siakan momen berharga itu. Begitu berharga, menengokmu dalam hitungan beberapa jam. Malam itu, ya, cukup satu malam ku paksakan menjadi malam yang panjang. Malam ketika ngantukpun menjadi hal yang paling egois tuk dituruti. Malam ketika lelahpun tak lagi jadi hal yang harus ku acuhkan. Malam itu kita habiskan berdua dengan penuh canda, kau bercerita kesana kemari, tentangmu, tentangku, hingga tentang masa kecilku yang masih benar-benar kau hafal di memorimu. Bahagia itu, ketika melihat rona matamu yang berbinar serta bibirmu yang tersenyum mekar. Bahagia itu, ketika engkaulah orang yang terakhir kulihat saat ku menutup mata, dan engkau pula orang yang pertama kulihat saat ku membuka mata.

DEWASA. Entah mangatasnamakan “menjaga kehormatan perasaan” ataukah aku terlalu angkuh kala ku katakan “aku sudah dewasa” hingga terasa momen kebersamaan kita telah begitu lama ku abaikan. Aku tau, aku sadar bukan saatnya lagi bagiku tuk bermanja seperti dulu saat aku masih belum tau banyak hal, selalu tanya ini itu padamu, saat aku selalu ingin selalu di sampingmu, memandang langit biru di pangkuanmu. Tapi juga bukan alasan bagiku tuk abaikan bahagiamu. Ketika mungkin memang momen-momen seperti itu salah satu alasan bahagiamu tapi seperti inilah kehidupan. Jangan salahkan keberjarakan yang ada. Karena keberjarakan itulah yang kerap menambah nikmat kebahagiaan kita saat bersua, membuat momen-momen kebersamaan kita semakin bermakna.

Ya Rabb, seperti ada banyak cara-Mu menghadirkan cinta di antara kami, berikanlah pula banyak cara agar ku bisa membuatnya bahagia.Maka izinkanlah, sempatkanlah. Jika lewat telapak kakinya terbuka pintu ke syurga bagiku, maka izinkan pula aku menjadi alasan terbuka pintu syurga untuknya. Aamiin ya rabbal alamin..... :) 

Semarang, 22 Oktober 2013